Minggu, 03 Maret 2013

Burung Puyuh


1. Umum
Burung puyuh (Coturnix-Coturnix Japonica) termasuk burung yang berbeda dengan jenis burung yang lain, karena burung puyuh tidak memiliki ekor yang panjang layaknya burung secara umum, sehingga mempengaruhi kemampuan terbangnya.

Burung puyuh termasuk burung yang hidup secara liar, dan ditemukan pertama kali pada tahun 1979 di Amerika, sebelum burung puyuh menyebar di seluruh penjuru negeri.

Burung puyuh masuk di Indonesia dan mulai di kenal yaitu di tahun 1979, setelah adanya puyuh impor yang didatangkan dari luar negeri.

Burung puyuh lebih dikenal oleh masyarakat pedesaan, karena burung puyuh sangat sering ditemukan di sawah, ladang dan semak-semak.

Burung puyuh adalah jenis burung pemakan biji-bijian, dan memiliki warna yang sangat beragam tergantung jenisnya. Gerakan yang lincah dan kamuflase adalah kemampuan yang dimiliki oleh burung puyuh untuk bersembunyi dari predator. Memiliki warna bulu yang menyerupai dengan warna tanah membuat burung puyuh sangat sulit ditangkap dengan tangan kosong.

2. Klasifikasi
Kelas : Aves (bangsa burung)
Ordo : Galiformes
Sub Ordo : Phasianoidae
Famili : Phasianidae
Sub Famili : Phasianinae
Genus : Coturnix
Species : Coturnix-Coturnix Japonica

3. Jenis-Jenis Puyuh
A. Arborophila Javonica
Arborophila Javonica, atau lebih dikenal dengan puyuh gonggong. Jenis puyuh ini memiliki ciri-ciri fisik bulat, panjang sekitar 25 cm dan bersuara seperti gong kecil sehingga disebut puyuh gonggong.

Kepala puyuh gonggong berwarna merah, paruh hitam, kaki merah muda, bulu di area badan berwarna kelabu agak lurik ke coklatan, dengan ekor melengkung ke bawah.

B. Rollulus Roulroul
Rollulus Roulroul, atau puyuh Mahkota dengan ciri fisik untuk jantan bulu hijau dengan warna punggung agak biru, bulu sayap cokelat gelap serta dibagian kepala terdapat kipas. Dan untuk puyuh betina memiliki ciri fisik, bulu cokelat muda dan di daerah kepala tidak memiliki kipas seperti puyuh jantan.

C. Coturnix Chinensis
Coturnix Chinensis atau disebut puyuh batu. Puyuh batu memiliki ciri fisik ukuran 15 cm dan untuk puyuh jantan, paruh berwarna cokelat, warna punggung campuran cokelat, abu-abu, serta garis-garis hitam. Untuk puyuh betina memiliki ciri fisik cokelat muda dengan garis blorok ke hitam hitaman.

4. Produksi
Puyuh sudah mulai berproduksi di usia 45 hari dan dalam setahun puyuh bisa berproduksi sekitar kurang lebih 300 butir.

Tingkatan ukuran telur atau grade ada 3
1. Grade A : ukuran besar, dengan berat 85-93 butir/kg, dengan warna bercak jelas, kulit tebal dan tidak mudah pecah.
2. Grade B : berat 94-105 butir/kg, dengan bercak jelas dan kulit tebal
3. Grade C : berat 106-111 butir/kg, dengan bercak jelas sampai samar dan dengan kulit tebal sampai tipis

5. Pembiakan
Induk burung puyuh sangat jarang mengerami telurnya, biasanya telur puyuh menetas atas bantuan kemurahan alam. Untuk puyuh yang diternakkan biasanya untuk menetaskan puyuh menggunakan mesin tetas. Lama telur dierami dalam mesin tetas sekitar 15-16 hari. Di habitat aslinya puyuh yang baru menetas sudah bisa bertahan hidup dengan mencari makan sendiri berupa serangga-serangga kecil.

Syarat-Syarat Telur Bibit
1. Berat sekitar 11-13 gram.
2. Perbandingan untuk puyuh telur bibit adalah 1:3 atau 1:5, atau 1 ekor jantan sebanding dengan 3 atau 5 ekor puyuh betina. (bagian ini akan dibahas terpisah di artikel berikutnya).
3. Induk (jantan dan betina) tidak memiliki hubungan keluarga dekat atau satu keturunan.
4. Bentuk telur bibit oval tidak lonjong dan bulat.
5. Kondisi fisik telur pada bagian kulit harus rata, utuh, halus, bercak jelas, tidak retak atau terdapat kotoran di permukaan telur.

Informasi ini bersifat umum sekedar pengenalan tentang burung puyuh, dan bagian-bagian penting tentang tata laksana berternak puyuh akan dibahas mendalam pada artikel berikutnya.

0 komentar:

Posting Komentar